Kita untuk Lingkungan atau Lingkungan untuk Kita?

#gogreen #savetheearth #ecofriendly #kangpisman #danseterusnya

Sering lihat campaign dengan hashtag itu? Rasanya campaign serupa digaungkan terus menerus belakangan ini. Disamping berbagai isu lain yang ada, seperti gender equality, poverty dan politics kenapa ya environmental issue/ climate change menjadi salah satu isu yang secara konsensus digaungkan di seluruh dunia? Sepenting itu kah??

Lingkungan itu sendiri menurut S. J Mc Naughton dan Larry L. Wolf merupakan semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkembangan serta reproduksi organisme yang tinggal di dalamnya. Selain itu menurut Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto, lingkungan ialah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Dari kedua sumber itu bisa disimpulkan lingkungan ialah suatu ruang yang mengandung unsur biologis dan fisika yang mempengaruhi kehidupan siapa saja yang tinggal di dalamnya. Hal ini serupa dengan yang disampaikan pada Mata Kuliah Rancang Kota, bahwa lingkungan dan organisme, termasuk manusia, saling memberikan pengaruh satu sama lain, mereka saling membentuk diri lawan berdasarkan atribut yang ada pada dirinya.

Terdapat dua subjek, yakni lingkungan dan manusia. Keduanya membangun hubungan timbal balik yang sangat kuat dan dijelaskan dalam satu kesatuan tatanan ekologi, ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.

Campaign dan hashtag pada awal tulisan merupakan salah satu manifestasi dari timbal balik yang terjadi. Dengan campaign, manusia berusaha mengubah perilakunya agar dapat lebih konservatif dan membentuk lingkungan yang lebih baik mengingat pertumbuhan dan perkembangan manusia dengan evolusi kegiatannya ternyata telah mendegradasi lingkungan secara massif.

Berdasarkan report pada nationalgeographic.com, 75% tanah di Bumi sudah terdegradasi dan menjadi gersang, baik karena deforestasi, polusi limbah ataupun disebabkan konversi ke lahan agrikultur. Jika trend ini dibiarkan maka 95% tanah pada 2050 akan terdegradasi sepenuhnya. Akibatnya? Akan terjadi kelangkaan air dan sumber pangan di Bumi. Selanjutnya, berdasarkan perhitungan carbon footprint, manusia telah mengeksploitasi sumber daya 150% dari 100% kapasitas Bumi. Kemudian, berdasarkan data worldbank.org emisi gas karbondioksida semenjak tahun 1960 hingga 2015 meningkat sebanyak 350%. Belum lagi tentang pulau sampah, pernah dengar tentang Great Pacific Garbage Patch? Ya, pulau paling mengerikan yang ada di dunia, gimana ga mengerikan, pulau itu terbuat dari sampah plastik semua negara yang dibuang ke laut dan akhirnya terakumulasi di satu tempat akibat arus laut. Katanya sih ukurannya seperti India, Eropa dan Mexico ketika digabungkan! Ga heran lagi kenapa populasi makhluk hidup di laut jadi berkurang dan tercemar.

Dimulai dari tanah, udara, sampai air! Kebayang ga sih sudah seberapa parah manusia merusak rumahnya sendiri?

Padahal keberadaan ekologi seharusnya menjadi salah satu batasan manusia berinteraksi dengan lingkungan agar hal-hal di atas tidak terjadi. Dalam ekologi dibahas mengenai kapasitas, daya dukung, dan daya tampung lingkungan. Hal inilah yang seharusnya menjadi rambu-rambu manusia untuk menjalin hubungan dengan lingkungan. Keserakahan manusia dengan segala gaya hidup yang dipikirnya stylish, modern, dan keren justru memberikan eksternalitas negatif untuk lingkungan.

Mungkin memang benar, manusia belakangan terlalu antroposentris. Hanya memikirkan bagaimana memenuhi kepentingan dirinya dari lingkungan sekitar tanpa peduli bahwa sebenarnya setiap komponen yang ada di Bumi baik hidup maupun mati, termasuk lingkungan itu sendiri memiliki kepentingan yang perlu dipenuhi dan perannya masing-masing. Manusia bergantung pada lingkungan, dan begitu pula lingkungan bergantung pada manusia. Keduanya memiliki kedudukan yang setara subjek sekaligus objek.

Kerusakan lingkungan bukan hanya masalah sepihak yang dirasakan dampaknya oleh manusia akibat tidak lagi diberi servis ekologi yang baik, tapi kerusakan lingkungan juga merupakan masalah untuk lingkungan itu sendiri dalam suatu tatanan kehidupan yang sama-sama harus dipertahankan sebagaimana manusia terus bereproduksi mempertahankan eksistensinya.

Yes, masalah lingkungan is real! Mari setidaknya bergeser sedikit dari antroposentris menjadi ekosentris. Dan hargai serta jaga lingkungan setidaknya di lingkungan kecil yang kita punya. Bisa jadi mengurangi makan daging atau mengurangi pemakaian plastik, kendaraan bermotor, merokok dan masih banyak lagi!

Pssssst pls be aware, take ur action and be world changer!

24/12/19

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store