Ambruk

Bahkan rumah panggung tak mampu menahannya

Guncangan demi guncangan tak buatnya letih untuk kembali
Sebagai bukti bahwa dirinya adalah kearifan lokal yang agung
Miliki daya lenting tinggi
Tak ragu berdiri meski miring sekalipun

Tapi..
Yang biasanya dalam, kini dangkal
Yang biasanya malam, kini siang
Yang biasanya besar, kini dahsyat
Yang biasanya bergetar, kini memutar

Bukan lagi tentang fleksibilitas rangkanya
Tapi tentang tanah yang dipijaknya
Bukan lagi tentang tenggang rasa
Tapi tentang martabatnya

Disangka rusak hanya sepihak
Taunya hancur semuanya
Jangan pikir diri hanya satu
Kalau tak mau dirundung pilu

Kita berdiri sama mapan
Tak perlu riuh jika tak mampu, apalagi lawan tak mau
Kita tahu siapa untuk bersandar
Maka segeralah bersahabat dengan nyata agar tidak saru

Karena kini, rumah tak bangun lagi
Bukannya tak mau tapi memang tak mampu
Karena apa yang dipijak, sudah menelannya utuh-utuh

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store